Friday, August 29, 2008

Headline Flobamora

PERLU DIBENTUKNYA DEWAN ADAT SEBAGAI PENGAWAL PEMBANGUNAN YANG TERKONSEP DI NTT


Bajawa, Warnas
Pertemuan informal yang di gagas beberapa elemen masyarakat Ngada di Kualalumpur, Bajawa Kemarin (26/3/08) membahas perlunya pembentukan dewan adat setingkat kabupaten di Kabupaten Ngada secepatnya. Agar pembangunan di daerah ini, tidak mengesampingkan unsur local genius pada masyarakat yang dalam kesehariaan perilaku kulturnya nampak mengakar, diharapkan gerakan ini diikuti oleh tiap-tiap Kabupaten di NTT

“Dengan dibentuknya dewan adat maka genderang pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah tidak serampangan tetapi bisa berkolaborasi dengan kultur masyarakat karena mendapat legitimasi budaya setempat” hal ini disampaikan Mikael Risdiyanto anggota Forum Komunikasi Nasional”Bung Karno” Jakarta, atau dengan kata lain dewan adat sebagai lembaga independent untuk membantu mengontrol jalannya pembangunan di daerah kita, sambungnya.
Turut hadir dalam pertemuan itu, Rober Butheawa Direktur LSM Citra Ngada, Marianus Mame selaku Ketua Forum Pemekaran Golewa Timur, Aurilius usahawan besi tua dari Turekisa. Menurut Robert Butheawa wacana ide pembentukan dewan adat pernah muncul tapi lagi-lagi tidak ada tindak lanjut dari pihak-pihak yang berkompeten. Untuk itu mak frekuensi antar forum amat diperlukan, agar ide ini segera direalisasikan supaya arah pembangunan tidak mengalami ketimpangan didaerah ini.
Perlu diketahui dengan adanya lembaga semacam ini, justru mengajak peran serta masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif, dalam menuangkan konsep pemikiran konstruktif agar pembangunan ini tidak menghilangkan unsure-unsur tradisional dalam suatu tatanan masyarakat.
Akan tetapi diharapkan semua ini tidak menumbuhkan sikap primordialisme atau anti pendatang, ujar Aurilius. Martinus Mame menambahkan, dengan dibentuknya dewan adat nantinya mampu mengakomodir konsep-konsep pembangunan dari lapisan grass root. Sehingga kesan pembangunan tidak hanya bersifat top-down. Tujuan mulia ini diharapkan mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak, baik tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, budayawan dan dari unsure pemerintah.
Lebih dari itu dewan adat nantinya mampu berfungsi sebagai lembaga mediasi konflik di lapangan menyangkut kepentingan masyarakat dan kepentingan pemerintah sehingga konflik horizontal yang terjadi dapat diminimalisir dan dapat diredam secara musyawarah, ujar Mikael Risdiyanto. Kesejahteraan dan kemakmuran adalah tujuan bersama masyarakat NTT. Atasi segala persoalan dengan semangat perdamaian, niscaya impian NTT madani tercapai, katanya.
Pada kesempatan ini diharapkan pertemuan semacam ini berkesinambungan hingga pembentukan dewan adat dapat direalisasikan, diharapkan juga tokoh-tokoh lain bisa hadir dalam pertemuan selanjutnya, terlebih mereka-mereka yang memiliki background budaya setempat, sambung Martinus Mame menutup diskusi hari ini.

Dimuat :
Di Koran Warta Nasional Jakarta
Edisi 37/Thn II/1 April 2008
Selengkapnya...

Sunday, August 24, 2008

Gede Wardana

Gede Wardana beliau adalah alumni universitas Udayana - Bali, sekarang tercatat sebagai PNS di Suaka Purbakala Kabupaten Gianyar - Bali. Sepak terjang beliau dikancah dunia arkeologi tak diragukan lagi. Banyak informasi yang beliau catatkan dalam sejarah Indonesia. Sahabat - sahabatku jadilah seperti aku, sikap nrimo dan pasrah serta eling pada Yang Maha Kuasa telah memberikan nikmat hidup yang tak ada duanya. Kesejatian hidup telah kudapatkan pada satu keyakinan yang tak pernah sirna. Desa, Kala dan Patra. Selengkapnya...

Tuesday, August 19, 2008

FORUM NTT BERDIKARI PROGRAM

NTT MENUJU OTORITAS KHUSUS


Aspek EKONOMI
 Tolak keberadaan bank-bank syariah/bank yang berlabel agama di bumi NTT karena punya agenda terselubung.
 Bangun infrastruktur yang berskala internasional (Bandara/pelabuhan) di NTT agar mampu menggerakan roda perekonomian, mengingat wilayah NTT adalah kepulauan.

Aspek SOSIAL, PENDIDIKAN DAN BUDAYA
 Bubarkan/pelarangan laskar yang berlabel agama dan meresahkan masyarakat di bumi NTT.
 Tolak pencantuman identitas agama di KTP karena dapat memecah belah kerukunan beragama di bumi NTT.
 Tolak penerapan UU susdiknas Di NTT karena 95% mayarakat NTT adalah umat Kristiani
 Tolak keberadaan sekolah/universitas yang berlabel agama dinegerikan di bumi NTT.
 Karena memiliki kekhasan budaya yang unik di tiap-tiap daerah maka dianjurkan tiap-tiap kabupaten di NTT memiliki dewan adat dan nantinya di tingkat propinsi dibentuk Lembaga Adat Tertinggi (LAT) sebagai kumpulan duta dari dewan adat di tiap-tiap kabupaten.

Aspek HUKUM
 Tolak keberadaan pengadilan agama DI NTT karena mencerminkan dualisme hukum di bumi NTT, dan terkesan mengistimewakan agama tertentu.
 Dengan status otoritas  khusus kita mampu mengontrol dan mengawasi, mengadili pejabat-penjabat NTT terutama yang terlibat korupsi tanpa intervensi dari pemerintah pusat dan dari kepentingan politik tertentu.

Aspek POLITIK
 Sebagai wilayah perbatasan, NTT mempunyai posisi strategis di mata dunia untuk saat ini karena berbatasan langsung dengan Timor Leste, Australia dan perlintasan pelayaraan Negara-negara Oceania. Jika NTT kuat secara sosial ekonomi tentunya memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.



BENTUK  JARINGAN DAN DISKUSI TENTANG OTORITAS KHUSUS DI BUMI NTT.
Dalam waktu dekat akan dilaksanakan kongres rakyat NTT untuk OTORITAS khusus…………..
Selengkapnya...

BUALAN SANG PRESIDEN

Presiden Bukan “ Superbodi”
Cermin Kegagalan Sang Pemimpin Kabinet Indonesia Bersatu


Terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilu 2004 silam sebagai presiden, bagi sebagian rakyat yang awam dengan intrik politik memberi harapan akan perubahan, dan tentunya perubahan dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Tetapi bagi sebagian kalangan yang mahfum dalam dunia politik tentunya tak lagi heran akan apa yang sekarang terjadi. Ekonomi rakyat semakin terpuruk, kesenjangan si kaya dan si miskin semakin lebar. Kita diajarkan menjadi serigala bagi sesama anak bangsa dengan segala praktek korupsi yang tersirat dilegalkan dalam birokrasi pemerintah dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Sang presiden dalam kampanye pemilu lalu menjanjikan perubahan dan bukan pembaharuan. Lagi-lagi rakyat dijadikan tumbal dan kelinci percobaan demi pencitraan sang pemimpin. Sungguh ironis bangsa sebesar ini tak mampu lagi menemukan mutiara. Seolah tak ada lagi asa untuk menghamparkan segala cita rakyat Indonesia. Bagaimana mungkin membangun negeri ini jika dana pembangunan dikorupsi oleh mereka yang dipercaya untuk melaksanakannya?? Kekhawatiran ini tidaklah berlebihan. Ahli hukum dan politik Susan Rose – Arckerman menempatkan kepentingan pribadi, termasuk kepentingan dalam kemakmuran keluarga, sebagai motivator sentral dan universal bagi kehidupan manusia sehingga tak heran korupsi menjadi endemi(corruption & Government,2000).
Bertemunya kepentingan pribadi dan daya tarik kekayaan mengakibatkan manusia bisa menjadi beringas (Antonius Steven Un,2007). Filsuf Italia Nicolo Machiavelli (1469-1527) menyatakan “manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya daripada kehilangan bagian warisannya”. Hal inilah yang patut diwaspadai oleh publik sebab mentalitas yang demikian bobrok telah merasuk pada lingkaran kekuasaan.
Secara umum, negeri ini mengakomodasi praktek demokrasi. Namun banyak pengamat politik melihat itu sebagai suatu yang semu Meskipun komposisi pemerintah mencerminkan keberagaman masyarakat, itu tidak lebih melestarikan kekuasaan yang korup. Karena mereka – mereka yang masuk dalam kekuasaan karena dukungan para koruptor. Sehingga banyak kepentingan rakyat dipinggirkan dan dipasung. Lantas Pada gilirannya, akan luntur kepercayaan publik yang terdiri 3 kelompok. Pertama , publik tanah air tidak percaya pada institusi pemerintah dan hal ini berarti Penguasa telah gagal menjalankan roda pemerintahan termasuk melaksanakan pembangunan. Kedua, publik internasional dan lembaga donor tak lagi percaya kepada pemerintah. Hal ini berbahaya mengingat kita berada di ring of fire , potensi dan bencana politik amat besar. Ketiga, investor baik lokal maupun asing yang sudah sejak lama meresahkan korupsi birokrasi akan bertambah resah dengan suburnya korupsi di pemerintahan.
Menjelang bergantian tahun banyak masyarakat berharap mendapat kehidupan yang lebih baik. Tapi justru sebaliknya pengurangan jatah bagi BBM yang berSubsidi dijadikan algojo untuk membunuh rakyat. Alasan pengkonversian Minyak tanah dengan gas, Bensin Oktan 88 dikurangi stoknya untuk diganti Oktan 90, semua ini adalah akal licik dan pembodohan publik. Dan serba tidak masuk akal. Rakyat sengaja dimiskinkan agar mereka bisa tampil bak pahlawan menjelang pemilu 2009. Namun harus kita sadari kesabaran rakyat ada batasnya dan kita telah mengakui reformasi telah gagal. Bahkan tidak mustahil sebagian orang berharap adanya revolusi untuk menata kembali bangsa ini yang semakin rapuh. Kita membutuhkan oase politik dan kita menantikan suatu jawaban yang jujur dari sang pemimpin. Kenapa semua ini terjadi !, kita masih ingat ketika SBY naik ke pentas kekuasaan tertinggi lantas disambut berbagai bencana yang maha hebat. Ketika itu cibiran dari seorang paranormal terkemuka mengatakan “ Bahwa Tuhan Tidak Berkenan “ dan hal itu mungkin benar adanya.
Keniscayaan untuk mendapatkan pemimpin yang adiluhur bisa saja luntur, seandainya kita bersama-sama untuk komit mencari pemimpin alternatif yang mampu mengubah system, dan lagi bukan yang bermental opportunis. Kita semua sudah muak dengan kemiskinan materi dan rohani. Untuk itu marilah kita bangkit merapatkan barisan untuk mengatasi bersama segala permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari kita sendiri. Yakni berani memilih pemimpin yang jujur dan berani. Dan jangan memilih kembali pemimpin yang telah gagal.

Aufklarung




Penulis : Mikael Risdiyanto SB
Mantan Aktivis Reformasi 98
Tinggal di Kualalumpur Bajawa - NTT
Selengkapnya...

Sunday, August 17, 2008

Calon Pemimpin Masa Depan Bumi Flobamora



Nama saya : Maria Oktavia Ule, kelahiran SOE baru lulus SMA 1 Bajawa Tahun 2008. Saya berencana melanjutkan studi di salah perguruan tinggi favorit di Bali. Saya juga ikut bergabung dengan forum ini untuk memotivasi semangat dalam menempuh pendidikan selanjutnya dengan sungguh-sungguh, agar NTT tidak dipandang sebelah mata oleh siapapun. Apapun akan saya lakukan demi NTT-Ku, bersama FORUM NTT BERDIKARI saya bertekad dengan sungguh akan kita menjadi bangsa yang bermartabat dan berdaulat.....Dengan kelembutanku akan kutebarkan inspiransiku. Viva NTT-ku Profiat FORUM NTT BERDIKARI
Selengkapnya...

BERSATULAH NTT-KU, TEGAKLAH KEDAULATANMU

Namaku : Fransiskus Xaverius Wety, dan umurku 23 tahun. Aku lahir di Mataloko, Bajawa Kab.Ngada Distrik Flores. Saya menempuh pendidikan di IKIP PGRI Denpasar - Bali.
Kini saya juga bekerja dibidang kimia.
Saya antusias sekali untuk bergabung dengan FORUM NTT BERDIKARI karena dalam pergerakannya tidak bersifat sektarian atau rasis dalam memperjuangkan masyarakat kepulauan NTT. Dengan prinsip ONE IDEA ONE DREAM sesungguhnya rakyat NTT harus bersatu untuk menentukan sikap terhadap kolonialisme terselubung bi bumi NTT.



Selengkapnya...

Sunday, August 10, 2008

Kucing Sang Inspirator

Selengkapnya...

Tragedi Terjangan Ombak di SELAT LOMBOK

Inilah situasi paling mendebarkan ketika kami mengalami hantaman ombak rute penyeberangan Padang Bai - Lembar (lombok)
Inilah situasi dalam kapal Gading Nusantara, banyak penumpang tak berdaya karena kapal terguncang hebat dan mengalami hantaman 4 kali ombak setinggi 3 meter.
Ini gambar sopir ekspedisi Hokky Ekspress sdr Adi Killa tampak pasrah menghadapi kondisi yang tak pasti.
Tampak juga sdr. Yono mengenakan baju pelampung bersiap dalam kondisi emergency.
Dan juga terlihat situasi lengang di ruang penumpang.
Tapi toh karena berkat Tuhan yang melimpah kami masih bisa selamat sampai hari ini.
Terima kasih Yesus-Ku

Selengkapnya...

BIDAN-BIDAN KARIR NTT

Inilah Duta Kesehatan, yakni sedang mengikuti Tugas Belajar menempuh program DIV di POLTEKES Negeri Kebidanan di Denpasar-Bali.
yakni. sdri Mada Nggadas (Soe), sdri Aleksia daro(Bajawa), sdri Lid Laka(Bajawa), sdri Siska Roja(Bajawa), sdri Kristin Ota (Bajawa).

Dipundak merekalah kualiatas hidup masyarakat NTT dipertaruhkan.
Tekunlah, belajarlah penuh motivasi. Jangan sia-siakan harapan rakyatmu.
Bersatulah dan berkaryalah.



Selengkapnya...

Generasi Flobamora

Tunas-tunas muda bumi Flobamora ini menjadi sandaran cita-cita kami. Tuntunlah mereka agar mampu membawa pembaharuan menuju NTT yang kita idam-idamkan.
Senantiasa kepeloporan kami hendaknya kalian ikuti, teruskan perjuangan kami menuju NTT yang madani.
Bersatulah dan bersuaralah agar NTT bisa kemilau diantara bangsa-bangsa.
Jadikan bumi kita menajdi kiblat para bangsa.
Jangan biarkan anak-anak menjadi terlantar karena cita-cita kami, tetapi justru menjadi api semangat untuk beri jalan kepada mereka mencapai cita-cita yang sebenarnya.




Selengkapnya...

Friday, August 8, 2008

Kota Yang Sombong

Bagaimana mungkin membangun kemewahan ditengah ditengah kesengsaraan, dan bagaimana mungkin membangun istana ditengah deraian airmata.
Di ujung nan jauh di sana kita masih menggunakan bis kayu, kuda, rakit, sampan........., inikah stereotipe Negara Kesatuan atau penjajahan terselebung terhadap suku bangsa lain.
Bagaimana mungkin kita bisa rela begitu saja terhadap realita ini.
Dan Bagaimana mungkin NTT bisa sama seperti ini.
Hanya ilusi yang kata dapatkan dari bibir penguasa (pemerintah pusat). Kita harus bernyali dan bangkit dengan kesadaran sendiri.
GARAP LAUT KITA (NTT), MEGAHKAN DARATAN KITA (NTT).! satukan langkah dan bersatulah.


Selengkapnya...

Keangkuhan Jakarta

Dari luar tampak remang hotel bintang ini. Seakan cahayanya hanya boleh dinikmati oleh penghuninya sendiri. dari sisi arsitektur tampak tak memiliki nilai sosial.
Pencitraan demikian juga tampak dalam pengambil kebijakan yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
Oh Jakarta suatu hari bukan bagian dari negeri kami.
Kami manusia NTT sudah punya mimpi. Akan membangun daerah kami dengan keringat dan cucuran airmata kami.
Sungguh hanya soal waktu dan kesempatanlah yang menunda impian kami, NTT yang sejahtera dan madani.
Kami punya laut yang menjanjikan, kami punya pulau ribuan dan kami juga punya keahlian.
Tetapi kami belum punya kedaulatan dan otoritas yang mutlak. Saat ini kami menyatukan langkah tak terbelah. Kami punya harapan, kami punya impian. Tak lagi ada lagi komunitas yang mengisolasikan diri, entah dari Timor, Flores, Sumba, Alor, Solor, Lembata..................semua adalah kesatuan yang utuh yakni BANGSA NUSA TENGGARA TIMUR..................KAMI SATU KAWASAN DAN SATU IMPIAN .....................MEMPERJUANGKAN KEDAULATAN KAMI.!
Selengkapnya...

Wednesday, August 6, 2008

Suara Batin-ku


Tuhan adalah gembala-ku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, ia membimbing aku ke air yang tenang.
Ia menyegarkan jiwa-ku. Ia menuntun aku ke jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya sebab Engkau beserta-ku, gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagi-ku di hadapan lawanku.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah Tuhan selamanya. Selengkapnya...

Tuesday, August 5, 2008

Bali Dalam Kenangan


Senja ini ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu.
Aku datang kembali kedalam ribaanmu dalam sepimu
dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna,
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan,
dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku.
Aku cinta padamu kintamani yang dingin dan sepi,
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.
Hutanmu misteri segala.
Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti kintamani.
Kau datang kembali,
dan bicara padaku tentang kehampaan semua.
"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya",
"Tanpa kita mengerti, tanpa bisa menawar",
"Terimalah dan hadapilah",
dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara.
Aku terima ini semua,
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu.
Aku cinta padamu, karena aku cinta pada keberanian hidup.
Selengkapnya...

Bebaskan Negeri-Mu




Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian adalah Cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata

Selengkapnya...

Buat Anak Ani-Ku, di Gereja Ebenhazer Bajawa - Ngada - NTT


Vica Putri Kedua dari Keluarga NICO DALLY di Bajawa


" Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal hingga akhir".



Selengkapnya...

Markas Iblis



IBLIS KADANG TAMPAK BIJAK


Tak ada yang gratis menuju surga,
Kesenangan sesaat dan semu juga
membiasakan langkah kita.
Iblis, tokoh dibalik segala kesesatan,
Tak akan pernah berhenti mengelabui dan merayu manusia.
Agar tak bisa membedakan yang haq dan batil.
Jangankan kita manusia,
Nabi Musapun hampir tenggelam dalam buaian nasehatnya,
yang sepintas tampak bijak.
Padahal menggiring kita ke neraka.
........................sebuah kisah teladan yang layak dijadikan mutiara
Selengkapnya...

Surat Buat Tuhan




Kontemplasi

Kebanyakan orang membenci kesedihan mungkin karena berbicara kepada dunia publik, lalu Dalai Lama kerap mengatakan " ada yang sama diantara kita tidak mau penderitaan, dan mau kebahagiaan ". Ini manusiawi.
Sedikit manusia berani mengatakan jika mau menangis janganlah menangis di depan kematian, menangislah didepan kelahiran. Sebab semua kelahiran membawa serta penyakit, umur tua lalu kematian.
Dengankata lain, kelahiran sekaligus kehidupan tak bisa terhindar dari kesedihan, kesedihan selalu mengikuti langkah kelahiran. Seberapa kuat manusia berusaha, seberapa perkasa manusia membentengi diri, kesedihan tetap datang dan datang lagi.
Untuk itu jadilah bunga padma, di air tidak basah dan dilumpur tidak kotor.
Selengkapnya...

Sunday, August 3, 2008

Anakku, bebaskan bangsamu dengan suaramu



.....................if you old enough, you know people and you well known, as long as you active.
(Jika kamu cukup tua, kamu akan mengenal orang dan kamu akan dikenal orang sepanjang kamu giat)
Selengkapnya...

Semangat Kebebasan dan Kemerdekaan adalah segalanya buat kami

Selengkapnya...

Temu Perdana Forum NTT Berdikari Bulan Maret 2008

Selengkapnya...

Personil Forum NTT Berdikari Kab. Ngada

Selengkapnya...

Personil Forum NTT Berdikari Jakarta

Selengkapnya...

Pesta Pernikahan Personil Forum NTT Berdikari



Selengkapnya...

Thursday, July 31, 2008

Opini

Saudara-Ku

NTT adalah negeri tak bertuan ! kalo memang NTT bagian dari Indonesia dimana letak keindonesiaannya. Ketimpangan pembangunan adalah bukti nyata, antara jawa dan flores begitu beda, antara bali dan timor tak ada kesamaan bukti fisik terjadanya korelasi pembangunan yang seragam. Kami tau Jakarta paranoid terhadap kami bangsa Nusa Tenggara. Secara kultural dan aspek agamis menjadi alasan untuk tidak memakmurkan kami. Sesungguhnya kami bangsa nusa tenggara menjadi bulan-bulanan kepentingan dan menjadi pilot project dari sebuah kepentingan besar dan terselubung. Dengan alasan SDM rendah dan SDA yang tak berpotensi kita punya kekayaan telah dimanipulasi data-datanya, sehingga kita diminta hengkang secara halus dari tempat tinggal kita yang kita cintai ini. Dan pada akhirnya tanah-tanah dan kekayaan kita dikuasai secara perlahan tapi pasti. Pemerintah pusat sengaja memberi policy yang demikian. Hal ini sama hal dengan genocide terselubung atau sengaja melakukan revolusi agama !!!!!!!
Semoga tidak demikian halnya semoga para cendiakawan NTT mampu menyatukan visi dan semangat kesatuan kawasan hingga tak mudah diadu domba. Kita perlu berpikir perlunya NTT menentukan nasib sendiri. dan ini menjadi semangat bersama. NTT bukan pabrik kuli, yang hanya bisa menjadi anjing penjaga dinegeri orang. Tetapi juga bisa melahirkan sumber daya yang intelek. Yang bisa menjadi lentera pada setiap bangsa. Waspadalah dan berdoalah kalimat sederhana ini harus bisa menjadi nilai kontrol bagi insan nusa tenggara. Kami percaya suatu saat cita-cita ini akan bermuara.
Belajar dan teruslah belajar.
Tanamkan kemandirian, semangat gotong royong harus dijadikan landasan dan bukan menjadi sikap ketergantungan terhadap marganya, sukunya dan pihak lain.
Potret buram harus kita hapus !
Lakukan apa yang bisa kita lakukan.
Bertanyalah apa yang belumn kau mengerti !
Hilangkan kesan cepat puas diri !
Belajarlah menjadi bangsa yang rendah hati!
Dan jangan pobhia terhadap suku lain!
Jika semua virus-virus sosial ini mampu di basmi niscaya NTT menjadi bangsa yang bermartabat.
PRO ECCLESIA et PATRIA
Selengkapnya...







NTT Baru, is Possible Mission and NotOnly a dream

Gabriel Adur

Memahami NTT secara baru adalah sebuah kemungkinan yang paling mungkin menuju NTT Baru. Pemahaman yang baru itu tidak pernah terlepas dari realitas perjalananan masyarakat yang menjadi saksi hidup tentang hiruk pikuk dan carut marutnya roda pembangunan yang berlabelkan kesejahteraan rakyat tapi pro kepentingan elite dan golongan. Di sisi lain pemahaman baru tentang NTT tidak pernah terlepas dari Kemiskinan masyarakat yang menjadi label pembangunan di NTT. Hal ini menjadi acuan yang paling signifikan tentang semua janji-janji manis pembangunan pemerintah dan yang menduduki tahta rakyat NTT di parlemen yang bekerja sebagai penyambung aspirasi rakyat tapi pro korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dalam hal ini kita melihat adanya realitas pemiskinan struktural dan usaha yang tepat untuk menciptakan kemiskinan bagi masyarakat miskin dan strategi jitu menambah kekayaan bagi yang sudah kaya. Dengan kata lain, formulasi pembangunan di daerah kita adalah formulasi bisnis tanpa etika yang secara tepat dikatakan sebagai Pembangunan tanpa hati nurani. Sehingga masyarakat miskin dan dimiskinkan hanya menjadi pengemis-pengemis pembangunan, yang nasibnya dijual belikan di meja-meja perundingan elite.

Tentang realitas buram dalam masyarakat kita di tengah bergulirnya roda pembangunan ini Mohatma Gandhi pernah berujar bahwa paling kurang ada tujuh dosa Sosial dalam pembangunan yang menghantui perjalanan sebuah masyarakat 1). Kekayaaan tanpa kerja (Reichtum ohne Arbeit) 2. kenikmatan tanpa hati nurani (Genuss ohne Gewissen) 3). Kesadaran tanpa Karakter (Wissen ohne Charakter) 4. Bisnis tanpa moral ( Geschäft ohneWissenschaft ohne Charakter) 6). Agama tanpa Kurban ( Religion ohne Opfer ) dan 7). Politik tanpa Prinsip ( Politik ohne Prinzipien ) ( Ernst & Engel : Sozial Ethik Konkret , 2006). Ketika ketujuh dosa sosial ini dan juga dosa-dosa sosial lain bekerja secara intens dalam sebuah masyarakat sebagai sebuah organisme maka yang terjadi adalah adanya kanker sosial yang menciptakan masyarakat yang sakit dan miskin. Moral ) 5. Pengetahun tanpa Kemanusiaan. (

Logika ini mungkin berlaku, pembangunan yang berlandaskan pada idiologi yang sakit, menciptakan aparat pembangunan yang sakit. Aparat yang sakit menciptakan agenda pembangunan yang sakit dan akhirnya melahirkan pembangunan yang sakit. Hasil dari pembangunan yang sakit adalah masyarakat sakit dan miskin. Ketika masyarakat yang miskin dan sakit-sakitan tak memiliki kekuatan untuk mengontrol roda pembangunan, maka yang terjadi adalah tak ada kontrol sosial pembangunan dan terjadilah pesta sakit aparat yang sakit. Hasil dari pesta pembangunan aparat yang sakit dan bermodalkan dana pembangunan untuk mengusahakan kesejahteraan rakyat melahirkan ribuan koruptor dan mafia pembangunan yang sakit maka terjadilah rantai makanan orang sakit dan labirin penyakit sosial dalam masyarakat kita yang sulit disembuhkan.

Di sisi lain, ketika masyarakat yang miskin dan sakit-sakitan juga doyan menciptakan penyakit dengan berjudi, mabuk-mabukan, tawuran di jalan-jalanan, merampok, berpesta pora dan menciptakan perang-perang tanding untuk saling membinasakan satu sama lain, maka masyarakat jelata ini tak pernah terlepas dari kelatahan yang melemahkan nadi-nadi dan asa untuk membangun diri secara santun, kritis dan penuh harapan. Di sini masyarakat mensia-siakan kerinduan yang mungkin dapat direalisasikan yakni membangun diri menuju kesejahteraan dan kemakmuran dalam keluarga. Inilah sisi-sisi buram yang mendandani pesta pora pembangunan dan pawai masyarakat kita di tahun 2007 yang hampi berlalu ini.

Di tengah realitas buram pembangunan ini, masih ada keberhasilan pembangunan yang menjadi kekuatan komunal dan kolektif untuk membangun diri ke depan. Keberhasilan pembangunan ini juga menjadi sebuah acuan untuk menciptakan paradigma pembangunan di NTT yang berlandaskan pada kemanusiaan dan kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, sisi positif pembangunan merupakan sebuah pintu menuju NTT baru. Keberhasilan yang diraih ini juga merupakan titik tolak untuk membangun pemahaman yang baru tentang NTT yang baru. kalau masyarakat NTT tidak mengakui dan melihat adanya kemajuan pembangunan maka ini juga adalah sebuah dosa dan penyakit sosial pembangunan.. Penyangkalan radikal atas sisi positif pembangunan yang dicapai juga adalah sebuah prilaku sosial masyarakat yang kurang realistis dan sulit diterima. Karena dalam sebuah pembangunan kedua aspek ini tetap berjalan berdampingan. Tak ada kesuksesan pembanguna tanpa kegagalan. Bagaimana meminimalisasikan efek negatif dari pembangunan menjadi sebuah pekerjaan Rumah kita semua.

Menoleh kembali pada dua hasil pembangunan yang telah dan sedang digalakan di daerah NTT adalah sebuah modus operandi yang positif untuk bisa mengevaluasi perencanaan pembangunan, motiv dan tujuan pembangunan serta merefleksi kembali konkretisasi semua elemen ini dalam tindakan nyata ataua kebijakan-kebijakan dalam membangun NTT. Di sini, mungkin perencanaan, motiv dan tujuannya bagus dan nampaknya pro kepentingan rakyat tapi cara dan kebijakan yang diambil sebagai langkah konkritnya kurang elok dan kurang merakyat. Di sisi lain, rakyat yang hendak mengontrol jalannya roda pembangunan sedikit memiliki peluang untuk melakukan itu secara efektif. Dan mungkin dalam memanfaat kesempatan yang sedikit itu lebih banyak memberikan kritik yang tidak konstruktif dan juga dengan cara yang kurang elok.

Semua itu mungkin kita akhiri seiring dengan pergantian tahun 2007 yang akan berlalu. Kita sambut tahun baru 2008 dengan sebuah paradigma baru untuk membangun NTT ke depan. Ini adalah sebuah penegasan yang mungkin dapat diterima secara ikhlas dengan akal sehat dan kesadaran hati untuk memasuki NTT baru. Di sisi lain, penegasan ini tidak bermaksud untuk menciptakan sebuah utopi tapi sebuah kerinduan yang mungkin perlu dikonkretisasikan dalam membenah diri sebagai pemerintah, aparat pemerintah, wakil rakyat dan rakyat NTT secara menyeluruh.

Sebagai bagian dari rakyat NTT melalui tulisan ini, penulis coba menyodorkan pemahaman baru tentang NTT baru. Hal ini penulis pikirkan hanya sebagai salah satu alternatif dari berbagai alternatif pemikiran yang dipikirkan oleh masyarakat NTT yang memang genius dalam berpikir. Di sisi lain, alternatif yang diberikan ini bukan merupakan sebuah kesimpulan, karena penulis tidak mau menjadi korban kesimpulan dari sekian banyak kesimpulan yang telah disimpulkan orang tentang pembangunan di NTT.

NTT baru adalah merupakan penjelmaan dari NTT lama. Dalam arti bahwa propinsi kita tetap merupakan sebuah propinsi lama yang telah diurutkan pada nomor sekian dari begitu banyak propinsi lainnya di Indonesia. Disebut sebagai NTT baru, ketika kita berupaya untuk mengubah dan memperbaiki berbagai prilaku yang menjadi penghambat kemajuan NTT yang lama.Dengan perubahan berbagai prilaku yang negatif itu kita bisa memberikan warna baru bagi propinsi kita. Kalau dulu mungkin orang katakan Nusa Tetap TErtinggal, sekarang kita mau memberikan jawaban positif bahwa Nusa Tidak lagi Tertinggal dan Terkebelakang atau tidak Termiskin.

NTT baru merupakan bentuk kumulatif dari berbagai pemikiran, daya dan tindakan nyata seluruh masyarakat yang memiliki beberapa hal ini:

1). Sense of Belonging, dalam arti semua orang NTT memiliki kesadaran bahwa NTT merupakan milik semua masyarakat, bukan milik suku, kelompok atau elite tertentu. Kesadaran ini memberikan bobot positif untuk menghindari bentuk hegemoni suku, kelompok atau elite tertentu yang memberikan peluang untuk menciptakan korupsi, kolusi dan nepotisme.

2). Sense of Responsibility. Kesadaran untuk bertanggungjawab terhadap jalannya roda pembangunan di NTT adalah kesadaran timbal balik. Pemerintah, aparat dan DPR bertangggunjawab untuk memajukan kesejahteraan rakyat dan rakyat bertanggungjawab untuk membangun diri secara lebih baik sebagai modal-modal percepatan pembangunan.

3). Sense of Brotherhood and Sense of Charity. Kedua hal ini tentunya lahir dari masyarakat yang masih memiliki tradisi religios dan sifat yang saling mengasihi. Dalam pembangunan menuju NTT baru keduayan menjadi Etika Sosial untuk mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

4). Construcktive Critic. Untuk menjaga kualitas pembangunan yang demokratis maka perlu adanya kritik. Kritik berarti adanya pemilaan yang pasti dan positif akan hal-hal yang tidak baik dan baik dari hasil pembangunan di NTT. Auto kritik pejabat pemerintah dan aparat misalnya sangat membantu untuk mengubah kinerja kerja ke depan. Di sisi lain, kritik yang konstruktif dari masyarakat terhadap kinerja kerja aparat adalah sebuah bentuk pengakuan dan apresiasi yang positif dari masyarakat atas hasil pembangunan yang dicapai, terutama keberhasilan pembangunan. Di sisi lain ini merupakan sebuah medium yang memberikan peluang kepada the agent of progressive and the agent of Development (Agent-agent pembangunan dan percepatan pembangunan ) masyarakat untuk melihat secara realistis sisi negatif dan positif dalam mengevaluasi diri demi sesuatu yang positif dan konstruktif ke depan.

NTT baru adalah sebuah penegasan tentang jati diri orang NTT yang menjadi agen-agen pembangunan itu sendiri. Dalam arti bahwa; kalau kita semua bergerak maju dalam nuansa demokratis , maka NTT bukan tidak mungkin menjadi daerah yang maju dan kaya karena hasil kerja keras kita semua. NTT baru adalah NTT yang diisi dengang berbagai Kreativitas, Inovasi dan mentalitas masyarakat yang membangun dan juga dinikmati dengan penuh demokratis tanpa terprovokasi oleh politik kepentingan dan interese kelompok dan golongan, dengan itu kita akan mengukir sebuah sejarah NTT yang baru sebagai hasil perjuangan yang jujur dengan kerja keras dan santun.

NTT yang baru membalik ungkapan Mohatma Gandhi adalah NTT yang dibangun di atas kesadaran hati untuk membangun. NTT yang dibangun dengan karakter kesadarn yang khas sebagai orang NTT. NTT yang dibangun dengan bisnis-bisnis yang memiliki Etika. NTT yang dibangun oleh ilmuwan dan masyarakat yang pro kemanusiaan. NTT yang dibangun dengan kekuatan spiritual dan juga umat beriman yang tahu beramal, berkurban dan bersedekah. NTT baru adalah sebuah propinsi lama yang terus dibarui dengan politik yang memiliki prinzip dan berorientasi pada rakyat.

Penulis cuma sekali lagi mau menegaskan bahwa NTT baru adalah sebuah kerinduan yang dapat diaktualisasikan. Namun, hal ini tetap berpulang pada kita semua. NTT baru sebuah misi kolektif kita yang Mungkin ( possibel Mission ) dan bukan cuma sebuah Mimpi seorang penyair di waktu senggang. Kenapa tidak. Selamat Memasuki Tahun 2008. Vini, Vidi, Vici.

Prev: Heilige NAcht
Next: Globalisasi dan kesiapan lokal Masyarakat NTT

reply share


audio reply video reply

Add a Comment


For:


Add a comment to this blog entry, for everyone

Send gabrieladur a personal message




Subject:





-


Quote original message






© 2008 Multiply, Inc. About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Selengkapnya...

Tokoh-Tokoh Muda NTT

Isidorus Lilijawa

Salam. Blogspot ini merupakan wahana tukar pikiran dan brainstorming yang saya ciptakan dengan sadar dan penuh tanggung jawab. Isinya adalah berbagai tulisan saya yang pernah dimuat di berbagai media massa, juga features yang sempat nongkrong di koran-koran lokal. Mudah-mudahan saja bermanfaat.

Monday, May 12, 2008

Mencermati Perdagangan Orang di NTT

Oleh Isidorus Lilijawa

Perdagangan orang (human trafficking) bukan merupakan fenomen baru di Indonesia. Sejak zaman raja-raja perdagangan orang sudah dimulai. Pada masa itu, perempuan diperjualbelikan untuk memenuhi nafsu lelaki dan kepentingan penguasa. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, kegiatan ini berkembang menjadi lebih terorganisir (Hull, Sulistianingsih dan Jones, 1977). Tidak berhenti saat itu. Masa kini perdagangan orang memperoleh bentuknya yang kian menjadi-jadi dengan berbagai modus operandi.

Perdagangan orang diartikan sebagai tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, kekuatan atau bentuk-bentuk pemaksanaan lainnya, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan uang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, yang dilakukan di dalam negara atau antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.

Indonesia merupakan daerah sumber, transit dan tujuan perdagangan orang. Menurut laporan IOM (International Organization of Migration) pada tahun 2006, 22 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia menjadi daerah asal korban yang tidak hanya diperdagangkan di dalam negeri tetapi juga di luar negeri seperti di Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang, Saudi Arabia, dan lain-lain. Setiap tahun diperkirakan 600,000 sampai 800,000 laki-laki, perempuan, dan anak-anak melintasi perbatasan antar negara. Para pelaku trafficking sering menjadikan perempuan dan anak sebagai target trafficking dengan janji-janji untuk mendapatkan pekerjaan, kesempatan melanjutkan pendidikan, dikawini, dan kehidupan yang lebih baik.

Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 15 provinsi terindikasi bahwa dari waktu ke waktu perdagangan manusia memperlihatkan grafik meningkat dengan negara tujuan Malaysia, Singapura, Taiwan, negara-negara Timur Tengah, Amerika Serikat, negara-negara Eropa. Sementara itu tujuan trafficking adalah sebagai berikut: untuk pembantu rumah tangga di luar negeri (kebanyakan di Malaysia, juga di Singapura, Taiwan, Saudi Arabia; dan sebagainya; prostitusi di luar negeri / bekerja pada tempat-tempat hiburan; kawin dengan orang asing (terutama ke Taiwan); bekerja di bidang konstruksi, perkebunan, dan lain-lain (kebanyakan di Malaysia, Saudi Arabia, dan Jordania); pembantu rumah tangga di Indonesia; prostitusi dalam negeri; penjualan bayi; lingkaran peminta-minta yang terorganisir; perkawinan kontrak.

Dari hulu ke hilir

Untuk memahami masalah perdagangan orang di NTT, kita perlu membedahnya dari hulu ke hilir. Prof Mia Noach, Ph.D, M.Ed Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT dalam diskusi yang diselenggarakan ACILS (American Center International of Labor Solidarity) dan Biro Perempuan NTT pada tanggal 12 Maret 2008 mengatakan demikian karena NTT memiliki konteks perdagangan orang yang berbeda dari daerah lain. Untuk mengerti perdagangan orang di NTT, setiap orang mesti membedahnya secara holistik dari hulu ke hilir, bukan serpihan-serpihan kecil yang terlepas satu sama lain.

Pada hulu masalah, terdapat sejumlah faktor yang mendorong terjadinya perdagangan manusia. Dikatakan sebagai faktor-faktor yang mendorong terjadinya perdagangan manusia, karena faktor-faktor ini merupakan kondisi yang mendorong pelaku, keluarga, masyarakat, dan aparat pemerintah terlibat dalam proses atau cara migrasi dan kegiatan yang tergolong perdagangan manusia. Faktor-faktor itu antara lain kemiskinan yang diperburuk oleh krisis multidimensi yang masih melanda Indonesia; pertumbuhan angkatan kerja yang tidak seimbang dengan ketersediaan lapangan kerja berimbas pada meningkatnya pengangguran; perubahan gaya hidup yang lebih mengarah kepada materialisme dan konsumtif; bias gender yang bersumber dari budaya yang memberikan penilaian yang berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan secara ekonomis; jaminan sosial dan perlindungan hukum yang belum memadai, termasuk penegakan hukum yang belum optimal terhadap maraknya tindak pidana yang melibatkan aparat pemerintah.

Sedangkan hilir masalah merupakan tujuan dari tindakan perdagangan manusia, sekaligus akibat yang diderita oleh korban. Dalam konteks ini, tujuan perdagangan manusia teridentifikasi sebagai berikut: pelacuran dan eksploitasi seksual (termasuk phaedopili); buruh migran legal maupun ilegal; adopsi anak; pembantu rumah tangga; mengemis; industri pornografi dan bentuk-bentuk ekploitasi lainnya.

Dengan membedah masalah perdagangan orang dari hulu ke hilir, kita bisa melihat kontekstualisasinya di NTT. Untuk konteks NTT, yang menjadi korban utama perdagangan orang adalah perempuan dan anak. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan masalah trafiking di NTT adalah upaya yang langsung berhubungan dengan kepentingan para korban itu. Selain itu, konteks perdagangan orang di NTT tidak hanya terjadi dalam pola perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan dalam cakupan antar daerah dan antar negara melainkan juga antar lokal. Contoh perdagangan antar lokal adalah nasib seorang gadis asal Belu yang menjadi korban kerja paksa pada salah satu keluarga di Kampung Garam Maumere beberapa tahun lalu.

Masih berkaitan dengan perdagangan orang di NTT, perlu dipahami bahwa cakupan itu tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang dipekerjakan di luar negeri atau di luar daerah secara ilegal dan tidak memenuhi syarat tenaga kerja. Dalam wilayah NTT sendiri ada banyak contoh kasus perdagangan orang dalam bentuk eksploitasi seksual seperti PSK Jalur Hijau Kota Kupang, PSK Sesekoe di Belu, PSK jalanan di setiap ibukota kabupaten. Mereka-mereka ini adalah bagian dari perdagangan orang. Sayang bahwa oleh konsep tentang perdagangan orang yang masih rancu, mereka-mereka ini tak tercakup dalam upaya pencegahan dan penanganan para korban trafiking di NTT.

Perdagangan orang di NTT dari tahun ke tahun kian marak. Rumah Perempuan, salah satu LSM yang bekerja dengan isu perempuan dalam buku catatan pendampingan Rumah Perempuan melaporkan bahwa selama tahun 2007 ada 20 kasus perdagangan orang yang didampingi Rumah Perempuan. Semuanya terjadi pada buruh migran perempuan. Dari 20 kasus buruh migran, 2 (10%) terjadi pada buruh migran legal dan 18 (90%) terjadi pada buruh migran ilegal. Modus kasus perdagangan orang antara lain penipuan besarnya gaji yang dibayar tidak sesuai dengan perjanjian; penipuan identitas (usia); bekerja melebihi jam kerja.

Selain laporan di atas, wajah NTT acapkali ternoda oleh kasus perdagangan orang yang bahkan telah menjadi konsumsi wacana internasional. Kita tentu masuh ingat kasus penganiayaan terhadap Nirmala Bonat, kasus terbunuhnya Tenaga Kerja Wanita asal NTT di Surabaya, kasus 327 Tenaga Kerja Wanita asal NTT berusia di bawah 18 tahun yang diperdagangkan di Papua. Selain itu, ada berbagai kasus yang menyangkut tenaga kerja asal NTT seperti yang dilansir oleh koran seperti kasus 108 anak dari Belu ditelantarkan di Jakarta oleh sebuah yayasan yang mengelola pendidikan tinggi (PK, 5/112007); seorang TKW asal NTT yang dianiaya oleh majikan yaitu Mr Chin dan Miss Ong (istrinya) (PK, 5/11/2007); 12 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal yang hendak berangkat ke Malaysia diamankan aparat kepolisian di Pelabuhan Tenau Kupang (31/11/2007). Mereka adalah calon TKI asal Rote dan Belu yang rencananya diberangkatkan ke Surabaya dengan kapal Tatamailau. Mereka yang direkrut ini dijanjikan untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit dengan iming-iming gaji sebesar 2 juta rupiah/orang. Namun sebelumnya para calon TKI harus menyerahkan uang sebesar 1 juta rupiah.

Data pada Dinas Nakertrans Provinsi NTT menunjukkan bahwa pada tahun 2005 ada 977 TKI bermasalah yang dipulangkan terdiri dari 704 laki-laki dan 273 perempuan; tahun 2006 tidak ada TKI namun ada 127 kasus pemulangan, 115 kasus melarikan diri, dan 7 kasus meninggal dunia. Bahkan dari bincang-bincang saya dengan Kasubdin PPTK Dinas Nakertrans Provinsi NTT, Abraham Jumina diketahui bahwa angkatan tenaga kerja NTT yang ke luar negeri akan terus meningkat hingga 10.000 orang untuk tahun 2008. Ini merupakan akumulasi TKI NTT yang legal maupun ilegal. Besarnya angka di atas ditunjang juga oleh praktik-praktik manipulasi identitas yang banyak dilakukan terutama untuk perdagangan orang ke luar negeri. RT/RW, kelurahan dan kecamatan dapat terlibat pemalsuan KTP atau Akte Kelahiran, karena adanya syarat umur tertentu yang dituntut oleh agen untuk pengurusan dokumen (paspor). Dalam pemrosesannya, juga melibatkan dinas-dinas yang tidak cermat meneliti kesesuaian identitas dengan subyeknya.

Kasus-kasus sebagaimana disebutkan di atas semakin meningkat dari waktu ke waktu sementara upaya pencegahan tidak memperlihatkan hasil yang maksimal karena lemahnya koordinasi, pengawasan dan pembinaan. Di samping itu, para korban tindak pidana perdagangan orang tidak ditangani secara baik. Yang terjadi sekarang adalah bagaimana para korban itu dipulangkan kembali kepada keluarganya tanpa sentuhan rehabilitasi terhadap kondisi kesehatan dan masalah sosial yang dialaminya. Sementara itu, sanksi terhadap para pelaku perdagangan manusia kurang tegas. Di sisi lain, kita belum miliki perangkat aturan yang bisa menjawab berbagai permasalahan yang sesuai dengan karakteristik dan kondisi Nusa Tenggara Timur.

Kita orang NTT tidak harus puas dan berhenti sampai pada titik provinsi yang dikenal dengan industri TKI. Ini seharusnya bukan menjadi kebanggaan kita. Malah mesti dilihat sebagai katastrofa kemanusiaan yang mengerikan. Industri tenaga kerja kita kerap bermasalah dan memakan korban manusia-manusia yang lemah, rentan kekerasan seperti anak dan perempuan. Sudah saatnya kita memiliki manajemen tenaga kerja yang baik. Bukan sekadar terkejut setelah ada persoalan di negeri orang, lantas saling mencari kambing hitam. Tugas pemerintah dan masyarakat bukan hanya mengupayakan tindakan kuratif setelah ada persoalan tenaga kerja tetapi bagaimana memberantas persoalan ini sejak dari hulu.

Kita tentu sangat berharap agar di NTT segera lahir Perda perdagangan orang dan Keputusan Gubernur atas peraturan daerah itu. Ini adalah landasan hukum yang penting untuk mencegah dan menangani kasus perdagangan orang di NTT. Bukan terutama secara politis, tetapi juga secara praksis di lapangan. Dan lebih dalam dari itu, karakteristik masalah perdagangan orang di NTT dari hulu ke hilir, kiranya tercakup dalam peraturan daerah yang sedang didamba masyarakat saat ini. Membedah perdagangan orang adalah upaya menguliti persoalan yang ada dengan harapan ada tindakan preventif dan kuratif yang dilakukan pemerintah dan masyarakat agar tidak jatuh terus-menerus korban perdagangan orang di NTT khususnya kaum perempuan dan anak.

Isidorus Lilijawa, Koordinator ACILS-LPA NTT untuk Traffiking. Tamatan STFK Ledalero.

Posted by Isidorus Lilijawa at 8:56 AM

0 comments:

Post a Comment

Newer Post

Older Post

Home

Subscribe to: Post Comments (Atom)

beta pung rupa

little memory of Kraton

Blog Archive

▼ 2008 (39)

▼ May (8)

Awas Gegar Budaya!

Jangan Mempermainkan Politik

Tak Cukup Hanya Retorika!

Mencermati Perdagangan Orang di NTT

Ironi NTT

Humanopolis

Petani dan Pilkada

Jangan Mempermainkan Politik

► April (28)

► February (3)

About Me

Isidorus Lilijawa

Kupang, Indonesia, Indonesia

I was born in Riung-Flores-NTT on 4th April 1979. Join with Seminary St John Berchmans Todabelu Mataloko Junior and Senior High School (1992-1998). After that, go to St Josep Novitiate in Nenuk - Atambua - Timor (1998-2001) as candidate of Divine Word Misionaries (SVD) priest. I completed my collegge level in Chatolic Philosophy Collegge of Ledalero-Maumere-Flores-NTT. In 2005-2006, be a part of Unika Widya Mandira University as Media Center staff and lecturer of Esthetic. 2006-2007 join with Flores Pos Daily and Dian Weekly as Journalist and editor. In 2008, join with Institute of Cross Timor Economic and Social Development (INCREASE) and writte book about civic empowerment entitled "Berguru Pada Masyarakat". Many articles I have written in local newspaper as Pos Kupang, Flores Pos, Dian, Timor Express, KANA-Malang, Expo NTT. Also writting in many journal such as VOX, Prajna, Wadas, Pata Ngada, Akademika. Firs book has published by Yayasan Pustaka Nusatama - Jogjakarta (August: 2007) entilted "Mengapa Takut Berpolitik?". The second book is still publishing entitled "Perempuan Di Ujung Pena" (compilation of best articles).

View my complete profile

Selengkapnya...

Wednesday, July 30, 2008

Lenteraku


SOEKARNO PERNAH BERKATA

“AKU AKAN BEKERJASAMA SEKALIPUN DENGAN SETAN TERKUTUK JIKA ITU BISA MEMERDEKAKAN NEGERI-KU“

Semangat ini harus menjadi lentera bagi bangsa Nusa tenggara mencapai tujuan mulia tentang makna perjuangan hidup. semoga

Selengkapnya...