Wednesday, November 26, 2008

Media NKRI Angkat Bicara Tentang Masa Lalunya

Menyingkap Misteri, Membangun Empati


KO M PA S / P R I YO M B O D O / Kompas Images

Senin, 16 Juni 2008 | 03:00 WIB
BUDIAWAN
Sejarawan Ong Hok Ham (almarhum) pernah melontarkan skeptisismenya terhadap upaya alternatif menemukan dalang Gerakan 30 September 1965 atau G30S. Kesangsiannya ini merupakan respons atas silang pendapat mengenai dalang di balik penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat pada 30 September 1965.
Silang pendapat itu muncul tidak lama setelah Soeharto jatuh pada Mei 1998. Tentu bukan maksud Ong untuk membela versi resmi rezim Orba yang secara gampangan menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang G30S. Kesangsian Ong mencerminkan posisinya sebagai sejarawan profesional, yang berpegang pada prinsip bahwa sejarah tidak mungkin ditulis tanpa bukti yang memadai.
Menyangkut G30S, bukti-bukti yang tersedia sangat jauh dari mencukupi karena banyak pelaku yang terlibat dalam gerakan itu, yang notabene bisa menjadi saksi kunci, telah dibunuh oleh Angkatan Darat, tidak lama setelah peristiwa itu terjadi.
Buku John Roosa, dosen sejarah di University of British Columbia, Kanada, yang merupakan hasil penelitian selama lima tahun ini, seperti hendak menjawab skeptisisme dan pesimisme semacam itu. Bukan dengan menyodorkan sebuah jawaban pasti atas pertanyaan siapa dalang G30S, tetapi dengan menunjukkan bahwa pertanyaan itu memang tidak akan pernah terjawab karena asumsinya keliru secara faktual.
Pertanyaan siapa dalang G30S mengasumsikan bahwa G30S merupakan sebuah gerakan yang terorganisasi secara rapi, dengan struktur hierarki wewenang dan pembagian tugas yang jelas serta ada pucuk pimpinan tunggal.
Menurut Roosa, asumsi ini keliru karena G30S kenyataannya jauh dari gambaran seperti itu. Sebagai sebuah operasi militer rahasia yang melibatkan beberapa pemimpin teras PKI, G30S merupakan sebuah gerakan yang kompleks, ruwet, dan tak jelas struktur organisasinya ataupun koordinasi pelaksanaannya. Tak ada garis komando yang jelas siapa memerintahkan siapa untuk tugas apa.
Sjam Kamaruzaman adalah Ketua Biro Chusus PKI yang menjadi perantara Ketua CC-PKI DN Aidit dan sekelompok ”perwira progresif” (Letkol Untung Sjamsuri dan kawan-kawan) yang tergabung dalam G30S. Tetapi, tidak jelas apakah Aidit sebagai pengendali G30S ataukah sekadar diseret ke dalamnya karena adanya kesamaan kepentingan dengan para ”perwira progresif” itu, yaitu memereteli kekuasaan sekelompok perwira kanan (AH Nasution dan kawan-kawan) melalui tangan Sukarno.
Ide menculik Nasution dan kawan-kawan serta menghadapkan mereka kepada Sukarno diyakini sebagai cara yang efisien dan terhormat untuk melumpuhkan pengaruh para perwira kanan dalam perpolitikan nasional. Skenario itu gagal total karena buruknya koordinasi di lapangan dan rendahnya kompetensi para prajurit pelaksana operasi itu. Hal ini menyebabkan Sukarno tidak mendukung, tetapi juga tidak mengecam G30S.
Dua hari setelah kejadian itu Sukarno memerintahkan Untung dan kawan-kawan untuk membubarkan G30S. Untung pun mematuhinya. Tetapi, Aidit, yang sudah lari menyembunyikan diri di Jawa Tengah, ingin gerakan itu diteruskan sambil berharap ada dukungan Sukarno. Anehnya, ia sama sekali tidak menggunakan organ-organ PKI untuk melanjutkan gerakan. Ia hanya pasif menunggu dukungan Sukarno, tidak tahu bahwa Sukarno telah memerintahkan pembubaran G30S.
Selanjutnya adalah serangan balik Soeharto, yang sudah mengetahui sebelumnya tentang akan adanya aksi G30S itu berkat pemberitahuan Latief. Serangan balik ini hanya awal dari pengejaran, pembantaian, dan penahanan massal terhadap siapa saja yang dianggap punya kaitan dengan PKI atau ormas-ormasnya. Meskipun demikian, tidak masuk akal dan juga tidak ada bukti yang memadai untuk mengatakan Soeharto dalang G30S.
Tampak bahwa alih-alih berusaha menemukan dalang, Roosa berupaya mencari tahu ”apa yang paling mungkin terjadi dengan G30S”. Meskipun tidak berakhir dengan kepastian karena penulisan sejarah yang penuh kepastian justru mengundang kecurigaan, buku ini sekurang-kurangnya telah menyibak sebagian misteri di seputar G30S.
Rekonstruksi
Meskipun buku ini ditulis dengan tujuan merekonstruksi masa lalu, struktur gagasan buku ini berbeda dari buku sejarah pada umumnya. Alih-alih ditulis dengan alur awal-klimaks-akhir, buku ini disusun berdasarkan potongan-potongan data, tak lain untuk mendapatkan gambaran fakta yang selengkap mungkin.
Dengan itu justru terlihat keganjilan hubungan antarfakta sehingga tujuan memahami ”apa yang paling mungkin terjadi” pun relatif bisa tercapai. Metode ini mirip dengan cara kerja detektif yang berangkat dari ketidaktahuan, bergulat dengan serpihan-serpihan data, mengutak-atik ada/tidaknya hubungan antarfakta, dan berakhir dengan dugaan-dugaan kuat bahwa kepastian mustahil didapat.
Potongan data yang menjadi titik tolak penyelidikan Roosa adalah dokumen Supardjo, yang kemudian ia kembangkan dengan mempelajari potongan-potongan data lain, yakni hasil wawancaranya dengan seorang mantan kader tinggi PKI, dokumen-dokumen internal PKI, beberapa memoar eks tapol yang baru diterbitkan, dan dokumen-dokumen rahasia Pemerintah AS yang sudah dideklasifikasikan. Setiap sumber dianalisis dan selanjutnya Roosa berupaya membangun suatu narasi yang berjalan secara kronologis dan bermaksud memecahkan banyak keganjilan yang telah ia uraikan sebelumnya.
Cara kerja ini berbeda dari kebanyakan pengkaji G30S lainnya, yang dengan sepotong data langsung membangun kesimpulan sehingga penyelidikan selanjutnya tak lebih dari upaya pembuktian kesimpulan itu. Karena beragam peneliti menggenggam beragam potongan data, hasilnya adalah munculnya beragam versi, misalnya (a) Sukarno dalang G30S (Fic, 2004), (b) Soeharto dalang G30S (Wertheim, 1970), (c) G30S sebagai konflik internal Angkatan Darat (Anderson and McVey, 1971), (d) CIA dalang G30S (Scott, 1985), (e) MI-6 dalang G30S (Poulgrain, 2000), dan (f) PKI dalang G30S (buku putih Orde Baru).
Selain tak akan pernah memuaskan secara akademis, munculnya beragam versi itu hanya menimbulkan silang pendapat yang tak akan berkesudahan, yang berakibat pada pengabaian dan pelupaan atas tragedi kemanusiaan yang lebih besar, yakni pembantaian dan pemenjaraan massal terhadap ratusan ribu bahkan mungkin jutaan anggota dan simpatisan PKI atau yang sekadar di-PKI-kan, yang terjadi sejak tiga minggu setelah 30 September 1965 hingga pertengahan 1966.
Dengan kata lain, buku ini mengajukan argumentasi utama sebagaimana tertuang dalam judulnya, yaitu menempatkan G30S sebagai ”Dalih Pembunuhan Massal”, yang bersamanya Soeharto dengan dukungan para perwira kanan AD melakukan kudeta terhadap Sukarno. G30S dan kudeta Soeharto dengan demikian adalah dua peristiwa yang terpisah, yang terjadi secara berurutan, tetapi bukan dalam hubungan sebab-akibat.
Dengan argumentasi itu, Roosa ingin mengatakan bahwa G30S mempunyai makna penting karena Soeharto dan para perwira kanan AD yang telah lama menunggu-nunggu kesempatan untuk menghancurkan PKI sebagai jalan mengambil alih kekuasaan Sukarno menganggapnya demikian.
Indikator utamanya adalah begitu cepat dan masifnya propaganda penghancuran PKI mulai dikobarkan, hanya tiga hari setelah peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh perwira AD terjadi. Dari mana AD tahu dalam tempo sesingkat itu bahwa kejadian dini hari 1 Oktober 1965 didalangi oleh PKI?
Pertanyaan itu tidak relevan karena bukti bukan dicari, tetapi dikarang-karang. Salah satu ”bukti yang dikarang-karang” yang kemudian mendorong histeria massa anti-PKI adalah ”dongeng Lubang Buaya”, yang kemudian diabadikan dalam Monumen Pancasila Sakti dan disebarluaskan melalui berbagai cara, termasuk film garapan Arifin C Noor yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI. Sedemikian intensifnya penyebarluasan dan pewarisan ”dongeng Lubang Buaya” ini sehingga terbentuklah sebuah memori nasional yang sama sekali tidak mengacu pada apa yang sesungguhnya terjadi.
Apakah dengan demikian Roosa ingin membersihkan nama PKI? Apakah ia bermaksud membela PKI?
Profesional
John Roosa adalah seorang sejarawan profesional. Selain bekerja dengan etika akademis, ia juga menulis sejarah dengan spirit human concern. Seperti tertulis dalam kata pengantar buku ini tampak bahwa sikap Roosa tidak membela aksi-aksi PKI sebelum 1965, tetapi sama sekali juga tidak membenarkan kekerasan massal yang diarahkan kepada PKI setelah G30S.
Roosa ingin menghancurkan cara berpikir dikotomistik bahwa kalau tidak anti-PKI pasti pro-PKI dan sebaliknya. Selama cara berpikir seperti ini terus dipegang, niscaya kita akan terus gagal melihat peristiwa 1965-1966 sebagai bencana kemanusiaan. Cara pandang kita akan terus didikte oleh prasangka ideologis abstrak dan kalkulasi politik sempit.
Roosa menambahkan, sudah saatnya pula untuk berhenti berpikir mengikuti stereotip-stereotip basi. Sepanjang kekuasaan Soeharto, PKI digambarkan sebagai momok jahat sehingga tidak mungkin memahami bagaimana partai itu pernah menjadi demikian populer, dengan jutaan anggota dan simpatisan. Bagaimana mungkin sebegitu banyak orang Indonesia dihujat sebagai iblis? Buku ini ditulis berdasarkan anggapan bahwa anggota PKI sebenarnya manusia, bukan setan, dan memiliki karakter moral yang tidak lebih baik atau lebih buruk dari orang-orang lain di Indonesia (halaman xix).
Pesan etis tersebut sama dengan pendapat seorang sarjana literary theories Rusia, Tzvetan Todorov, yang menyatakan bahwa begitu kita menghujat masa lalu, kita tidak akan pernah belajar apa pun dari masa lalu itu. Hal yang sebaliknya saya kira juga berlaku: begitu kita terus-menerus mengglorifikasi masa lalu, kita juga tidak akan pernah belajar apa pun dari masa lalu itu.
Begitu dekatnya hubungan antara sejarah dan etika sehingga sejarah masih berhak mengklaim sebagai bagian dari humaniora, bukan instrumen pembenar kekuasaan suatu kelompok atau sikap politik suatu golongan.
Budiawan Dosen Program Magister Kajian Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Selengkapnya...

Saturday, November 15, 2008

Suara Media Centre



Sayonara Indonesia !

(NTT for Referendum)


Pupus sudah aza untuk merekat kembali hati warga Indonesia Timur ke pangkuan Republik Indonesia. UU Pornografi telah disahkan. Alarm Kemerdekaan buat NTT sudah berdering. Generasi Tua mesti bernyali mengajak kaum muda NTT mengambil sikap tegas demi kedaulatan bangsa Flobamora. Indonesia yang hanya memihak kepentingan kaum sorban, yang mencita-citakan hukum padang pasir tegak dibumi Indonesia. Mata mereka dibutakan demi segilintir kepentingan kotor demi mengais kekuasaan dengan jalan revolusi ideology. Sadarkah kita bahwa Indonesia diambang kehancuran. Komunitas Flobamora mesti tanggap dengan kondisi yang demikian. Hanya ada satu jalan pertahankan wilayah NTT dari kepentingan kaum sorban yang hendak memaksakan tegaknya konstitusi Arab hadir di Nusa Tenggara Timur yang kita cintai ini dengan berdiri sendiri sebagai Negara Yang Berdaulat.

Tentu saja ini bisa kita pelajari bagaimana Timor Leste begitu militan berjuang terhadap penjajahan Indonesia. Kita tidak salah menentukan pilihan. Tak ada satu prasastipun pada jaman raja – raja besar di Indonesia yang mengatakan bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah taklukan kerajaan manapun. Bumi NTT adalah wilayah perdikan, daerah yang bebas dan netral. Sadarkah kita bahwa kita telah dibodohi oleh segilintir tokoh yang hanya bisa menghamba dan menjilat terhadap kepentingan Jakarta ! Karakter komunitas NTT adalah modal besar menuju cita-cita besar. Keberanian adalah modal utama dan Perjuangan adalah senjata.

Sejarah telah mencatat sesungguhnya hal ini merupakan sebab dan akibat. Wajar kalo rakyat NTT marah, wajar kalo kita harus berpisah dengan Indonesia. Dengan 10 juta penduduk saja NTT sudah cukup untuk mendirikan sebuah Negara. NTT adalah cermin masyarakat Kristiani wajar kita berbeda. Istana telah dipenuhi otak-otak Onta dan barak-barak telah diisi kawanan kambing, pedang sebagai senjata dalam berperang dan ini pertanda Indonesia bukan lagi negara Pancasila dan berubah menjadi negara agama.

Apa bisa dikata kalo kita warga NTT hanya bisa mengumpat, hanya bisa ngrumpi tanpa aksi. Apakah selamanya warga Flobamora adalah suku bangsa yang bernyali kerdil, hanya bisa mengekor kepentingan Jakarta. Hari ini kita kibarkan bendera, mulai hari ini warga NTT bersiap untuk berperang. Kita tidak sendiri. Rakyat Bali hendak merdeka, Kekuatan Permesta hidup kembali di Tanah Minahasa Sulawesi Utara, Rakyat Jogyakarta juga akan merdeka. Maluku siap bergolak dan Papua hendak lepas dari Indonesia.

Komunitas NTT dimanapun siap kembali ke bumi Flobamora jika saja keinginan untuk merdeka segera diwujudkan. Bumi NTT punya segalanya, siapa bilang NTT miskin, siapa bilang NTT tak berpotensi itu hanya ucapan makelar politik yang hendak menggadaikan dan menjual bumi NTT kepada Bangsa lain. Yakinlah Tuhan menciptakan sesuatu dengan segala kelebihannya. Ini semua hanya soal waktu dan komitmen untuk memperbaiki ekonomi rakyat NTT, jika saja pilihan untuk merdeka dipilih warga NTT maka impian untuk sejahtera mendekati kenyataan. Untuk itu sangat diharapkan kaum muda NTT untuk lebih berkreasi dalam menyambut keinginan ini. Sikap berani, militan, jujur dan kreatif adalah sokoguru perjuangan yang sejati. Siapa Kita Siapa Indonesia.

Merdeka !

Pulau Flores lumbung kita

Laut Sawu Milik Kita

Pulau Komodo Mahkota Kita

Laut Flores harapan Kita

Pulau Timor Bagian Dari Kita

Sumba Benteng Kita Jayalah Flobamora



(Mikael Risdiyanto SB) Tgl 9 Nopember 2008

Wartawan Warta Nasional Jakartas


Selengkapnya...

Suara Media Centre

Bangkitnya Semangat Bangsa Sunda Kecil
(Indonesia Mendua)


Sejarah memang berulang. Ketika Indonesia memasuki kondisi pasca agresi militer II dan pasca perundingan Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda 1949 -1950 wilayah nusantara terpecah menjadi 2: wilayah Republik Indonesia dan wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS), dan NTT masih menjadi bagian wilayah RIS sebagai bagian wilayah Negara Kepulauan Sunda Kecil. Tentu saja ini semua memiliki latarbelakang pemikiran yang berbeda mencermati keadaan waktu itu dengan perspektif dari banyak segi. Bisa jadi para tokoh NTT dahulu kala memiliki pertimbangan seyogyanya tidak ngotot untuk segera bergabung dengan RI karena ingin melakukan bargaining politik. Realitas kultur dan agama masyarakat NTT menjadi fakta pembeda dengan yang ada di pulau Jawa dan Sumatera itu. Sejarah telah mengurai kala itu ketika sebagian kalangan menginginkan piagam Jakarta sebagai acuan ideology dan RI menjadi negara darul islam, dan ternyata keinginan komunitas itu sampai saat ini terus disuarakan dan kini setahap demi setahap keinginan mereka tercapai. Yakni menegakkan syarikat islam di segala lini.
Tentu saja ini melukai komunitas anak bangsa yang lain, ketika kita bersepakat dan bersumpah untuk mendirikan negara plural yang mengayomi banyak komuntas kini telah khianati dan ingkar janji. Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota negara OKI (negara-negara Islam) tentu saja ini menjadi pertanyaan bagi banyak kalangan terutama non muslim, ada apa dengan politik negara ini?
Dibuatnya UU peradilan agama 1992, UU Susdiknas 2002 dan terakhir lolosnya UU Pornografi 2008 menjadi indikasi kuat akan bergesernya ideology negara. Kita jangan menutup mata dan menganggap enteng masalah ini karena kehancuran negara ini menanti dan UU Pornografi adalah bom waktu bagi komunitas Non Muslim…….., Bali siap untuk membangkang, Papua siap menantang, Sulawesi Utara serta Maluku siap menendang UU tersebut, dan Kini Kepulauan Sunda kecil sedang meradang.
Banyak kalangan warga Kepulauan Nusa Tenggara berilusi akan hadirnya kembali Negara Sunda Kecil untuk menunjukkan eksistensi kaumnya atas pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh golongan tertentu terhadap realitas kultur dan ragamnya agama di bumi Indonesia. Mimpi itu pasti ada. Seringkali kaum avonturir politik di senayan bermain dalam angka-angka statistik dalam pengelabuan kondisi masyarakat Indonesia yang sebenarnya. Jadi semangat integritas bernegara semu adanya, maka sewajarnya wacana menggalang kebersamaan dan menyuarakan kebangkitan Negara Sunda Kecil menjadi sebuah jawaban atas realitas politik yang ada. Tak salah jika Rakyat Bali berkehendak untuk merdeka, dan diiringi daerah lain. Dan dalam agama apapun telah dinyatakan bahwasanya Tuhan menciptakan suatu tempat bukan untuk satu golongan saja tetapi untuk banyak komunitas. Wajar rakyat NTT menggugat! Satu hal menjadi pelajaran berharga jatuhnya Sriwijaya dan Majapahit karena keangkaramurkaan pemimpinnya. Untuk itu komunitas non muslim berharap setiap produk perundang-undangan hendaknya dikaji secara hati-hati dan komprehensif sekiranya tidak melupakan fakta yang ada bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk dan tidak boleh hanya satu komintas saja yang berhak untuk menentukan arah perjalanan bangsa ini. Bangsa ini milik kita semua entah Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha dan sebagainya atau ….Indonesia mendua !
(Kalbu Bangsaku)

Mikael Risdiyanto SB Tgl 9 Nopember 2008
Wartawan Warta Nasional Jakarta Selengkapnya...

Suara Media Centre

NGADA DI MATA MEDIA

(Rakyat Indonesia Bicara)


Kabupaten Ngada yang terletak diperlintasan trans-Pulau Flores Tengah merupakan daerah yang subur dan penuh potensi baik bidang agrobis, kelautan, pariwisata dan sebagainya. Secara geografis tampak menguntungkan dilihat dari aspek pengairan, curah hujan yang cukup dan kelembaban yang terjaga sehingga memungkinkan beberapa vegetasi bisa ditanam demi kelangsungan hidup masyarakatnya. Semangat kolektivitas dalam tataran dimensi sosial masih tampak kental citra gotong royong menjadi ciri khas pola hidup mereka,

Ditengah tarik-menarik kepentingan ideologis bangsa ini, dan gonjang-ganjing politik yang tak menentu justru masyarakat Ngada masih adem ayem seolah tak peduli dengan apa yang terjadi akan masa depan bangsa ini. Kesibukan komunal dan rutininas masyarakat Ngada tak punya arah yang pasti, miskin inspirasi dan dipimpin oleh pejabat yang tak bisa memberi stimulasi yang kongkret. Kita dipaksa jadi benalu, dan kreatitifitas kita dipasung dan dibelenggu atas nama eksistensi adat istiadat yang ternyata kesemuanya itu semu untuk dinyatakan.

Kesadaran akan perubahan dan pembaharuan harus dibenturkan dengan kepentingan ragawi bukan sebaliknya berjalan dengan penuh aroma harmoni. Kita tidak siap menjadi suku bangsa yang besar tapi menjadi suku bangsa yang tersisih dan kerdil dihadapan suku bangsa yang lain. Kita mudah diperbudak oleh keadaan terlebih jika kesemua itu unsur materi sebagai pedoman. Harga diri bisa diukur oleh uang. Tindakan asusila beberapa waktu yang lalu dilakukan oleh oknum pejabat Ngada (Oknum Kepala Dinas) bisa diamini dengan uang (hanya dengan membayar waja = denda adat).

Padahal uang tersebut disinyalir uang negara. Lebih gampang membudidayakan korupsi daripada budidaya agrobis atau apapun yang terkesan halal. Inilah kelebihan birokrasi Pemerintahan Ngada, main sikat habis setiap kalangan yang hendak memberi catatan kristis bagi prestasi birokrasi! Tak peduli itu juranalis/wartawan, LSM/NGO, ataupun masyarakat pokoknya sikat! baik melalui peradilan yang penuh skandal atau dengan dengan cara-cara busuk lainnya, inikah wajah Ngada yang sesungguhnya?

Pembangunan fisik (jalan, gedung pemerintahan, gedung sekolah dan sebagainya) terkesan asal-asalan, ini disebabkan dana alokasi proyek telah dikorup. Banyak dalih yang dipakai untuk berkelit dengan alasan dana terbatas atau alasan klasik lainnya. Jadi untuk menjadi orang kaya kita harus menjadi BIROKRAT dan ini hukum tak tertulis yang berlaku di kabupaten Ngada. Bukan sebaliknya Dengan berdayanya sektor dunia usaha (swasta) maka banyak muncullah orang-orang kaya. Sungguh fakta yang tersaji ini sangat mengerikan bagaimana banyak uang rakyat yang dihambur-hamburkan.

Jujur saja banyak pihak menyangsikan keberhasilan konsep pembangunan yang digagas oleh pemerintah kabupaten Ngada kenapa tidak, terkesan konsep itu hanya ilusi sesaat yang ditawarkan kepada rakyat, dan semua janji-janji sewaktu pilkada banyak diingkari. Ketika kita dipimpin oleh seorang pejabat yang memakai logika yang salah tentu saja banyak hal yang sia-sia yang akan kita dapatkan. Andai saja pemimpin kita ini punya sikap rendah hati dan banyak mengakomodir kalangan yang memberi sumbangsih pemikiran tentu saja pembangunan akan memperoleh hasil yang maksimal.

Rapuhkah warga Ngada dalam menyikapi fenomena sosial yang terjadi tanpa disikapi dengan satu solusi ataukah begitu perkasanya birokrasi hingga menutup akses bagi rakyat kecil atau……….entahlah !

Rakyat Ngada sedang meradang, dengan demikian situasi status quo trus berlangsung, tanpa tahu kapan semuanya itu berakhir. Tentu saja ini semua bukan keinginan rakyat Ngada, tidak salah jika banyak kalangan melakukan otokritik atas kebijakan pemerintah setempat dalam mengambil kebijakan publik yang seringkali tak lazim (tak sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku) seperti keterlambatan gaji PNS, pembiaran perilaku asusila oknum aparat/pejabat, menyunat bantuan untuk rakyat dan sebagainya. Gaya feodalisme masih tercermin kuat dalam struktur birokrasi pemerintahan setempat. Jadi dimata media Ngada daerah yang tak berdaya.

(Otokritik bagi Ngada dan semoga kelak Ngada bisa berjaya. Amien)


(Mikael Risdiyanto SB) Bajawa Tgl 9 Nopember 2008

Wartawan Warta Nasional Jakarta

Selengkapnya...

Friday, September 26, 2008

Anda Ingin Membuka Perpustakaan Umum di Daerah Anda (khusus daerah NTT)

Silakan menghubungi kami di no. 081381533119/085237051425.
Langkah ini dapat membantu melepas masyarakat NTT dari buta informasi. Kami yang terhimpun dalam Forum NTT Berdikari siap menfasilitasi keinginan komunitas dari lintas manapun untuk mewujudkan meningkatkan kecerdasan masyarakat NTT. Kapanpun kami siap bermitra dengan anda. Kami ada untuk anda.
Selengkapnya...

Simbol dan Logo Forum NTT Berdikari

Simbol Forum NTT Berdikari
simbol Menggapai cahaya yang penuh harapan.
Bintang berarti sinar harapan
Warna gelap berarti kita keluar dari kebodohan dan angkara murka.
Tangan melambai menyambut harapan yang kuat.
Warna oranye berarti semangat yang membara menuju cita-cita bersama
















Logo Forum NTT Berdikari Selengkapnya...

Thursday, September 18, 2008

Bali In Memoriam (NTT Community)





Selengkapnya...

Sunday, September 14, 2008

Hidup Bukanlah VCD Player (Kiriman Dari Forum NTT Berdikari - Bali)

Cerita ini adalah "kisah nyata" yang pernah terjadi
di Amerika.
Seorang pria membawa pulang truk baru
kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut
sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira
melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan

palu ke truk baru tersebut.
Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya
tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan
memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu

sebagai hukuman.
Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa
anaknya ke rumah sakit.
Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk
menyelamatkan jari- jari anak yang hancur tersebut,

tetapi ia tetap gagal.Akhirnya dokter memutuskan
untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua

tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi
dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban,

dengan polos ia berkata, "Papa, aku minta maaf
tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya, "tetapi
kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?"
Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungkan cerita di atas!
Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran
kepada seseorang yang kau cintai.

Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati
yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki.

Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara
orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa

mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang
kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita

selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum
mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan,

mengasihi satu dengan lainnya.

Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan
ada waktu untuk mencintainya

waktu tidak dapat kembali....

hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di
backward dan Forward..... ..
HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja....

jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat
membayangi kehidupan kita kelak....... ..

yang menjadi sebuah inti hidup adalah "HATI"

hati yang dihiasi belas kasih dan cinta kasih.....
CINTA KASIH merupakan nafas kehidupan kita yang
sesungguhnya. ......... Selengkapnya...

Friday, August 29, 2008

Headline Flobamora

PERLU DIBENTUKNYA DEWAN ADAT SEBAGAI PENGAWAL PEMBANGUNAN YANG TERKONSEP DI NTT


Bajawa, Warnas
Pertemuan informal yang di gagas beberapa elemen masyarakat Ngada di Kualalumpur, Bajawa Kemarin (26/3/08) membahas perlunya pembentukan dewan adat setingkat kabupaten di Kabupaten Ngada secepatnya. Agar pembangunan di daerah ini, tidak mengesampingkan unsur local genius pada masyarakat yang dalam kesehariaan perilaku kulturnya nampak mengakar, diharapkan gerakan ini diikuti oleh tiap-tiap Kabupaten di NTT

“Dengan dibentuknya dewan adat maka genderang pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah tidak serampangan tetapi bisa berkolaborasi dengan kultur masyarakat karena mendapat legitimasi budaya setempat” hal ini disampaikan Mikael Risdiyanto anggota Forum Komunikasi Nasional”Bung Karno” Jakarta, atau dengan kata lain dewan adat sebagai lembaga independent untuk membantu mengontrol jalannya pembangunan di daerah kita, sambungnya.
Turut hadir dalam pertemuan itu, Rober Butheawa Direktur LSM Citra Ngada, Marianus Mame selaku Ketua Forum Pemekaran Golewa Timur, Aurilius usahawan besi tua dari Turekisa. Menurut Robert Butheawa wacana ide pembentukan dewan adat pernah muncul tapi lagi-lagi tidak ada tindak lanjut dari pihak-pihak yang berkompeten. Untuk itu mak frekuensi antar forum amat diperlukan, agar ide ini segera direalisasikan supaya arah pembangunan tidak mengalami ketimpangan didaerah ini.
Perlu diketahui dengan adanya lembaga semacam ini, justru mengajak peran serta masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif, dalam menuangkan konsep pemikiran konstruktif agar pembangunan ini tidak menghilangkan unsure-unsur tradisional dalam suatu tatanan masyarakat.
Akan tetapi diharapkan semua ini tidak menumbuhkan sikap primordialisme atau anti pendatang, ujar Aurilius. Martinus Mame menambahkan, dengan dibentuknya dewan adat nantinya mampu mengakomodir konsep-konsep pembangunan dari lapisan grass root. Sehingga kesan pembangunan tidak hanya bersifat top-down. Tujuan mulia ini diharapkan mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak, baik tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, budayawan dan dari unsure pemerintah.
Lebih dari itu dewan adat nantinya mampu berfungsi sebagai lembaga mediasi konflik di lapangan menyangkut kepentingan masyarakat dan kepentingan pemerintah sehingga konflik horizontal yang terjadi dapat diminimalisir dan dapat diredam secara musyawarah, ujar Mikael Risdiyanto. Kesejahteraan dan kemakmuran adalah tujuan bersama masyarakat NTT. Atasi segala persoalan dengan semangat perdamaian, niscaya impian NTT madani tercapai, katanya.
Pada kesempatan ini diharapkan pertemuan semacam ini berkesinambungan hingga pembentukan dewan adat dapat direalisasikan, diharapkan juga tokoh-tokoh lain bisa hadir dalam pertemuan selanjutnya, terlebih mereka-mereka yang memiliki background budaya setempat, sambung Martinus Mame menutup diskusi hari ini.

Dimuat :
Di Koran Warta Nasional Jakarta
Edisi 37/Thn II/1 April 2008
Selengkapnya...

Sunday, August 24, 2008

Gede Wardana

Gede Wardana beliau adalah alumni universitas Udayana - Bali, sekarang tercatat sebagai PNS di Suaka Purbakala Kabupaten Gianyar - Bali. Sepak terjang beliau dikancah dunia arkeologi tak diragukan lagi. Banyak informasi yang beliau catatkan dalam sejarah Indonesia. Sahabat - sahabatku jadilah seperti aku, sikap nrimo dan pasrah serta eling pada Yang Maha Kuasa telah memberikan nikmat hidup yang tak ada duanya. Kesejatian hidup telah kudapatkan pada satu keyakinan yang tak pernah sirna. Desa, Kala dan Patra. Selengkapnya...

Tuesday, August 19, 2008

FORUM NTT BERDIKARI PROGRAM

NTT MENUJU OTORITAS KHUSUS


Aspek EKONOMI
 Tolak keberadaan bank-bank syariah/bank yang berlabel agama di bumi NTT karena punya agenda terselubung.
 Bangun infrastruktur yang berskala internasional (Bandara/pelabuhan) di NTT agar mampu menggerakan roda perekonomian, mengingat wilayah NTT adalah kepulauan.

Aspek SOSIAL, PENDIDIKAN DAN BUDAYA
 Bubarkan/pelarangan laskar yang berlabel agama dan meresahkan masyarakat di bumi NTT.
 Tolak pencantuman identitas agama di KTP karena dapat memecah belah kerukunan beragama di bumi NTT.
 Tolak penerapan UU susdiknas Di NTT karena 95% mayarakat NTT adalah umat Kristiani
 Tolak keberadaan sekolah/universitas yang berlabel agama dinegerikan di bumi NTT.
 Karena memiliki kekhasan budaya yang unik di tiap-tiap daerah maka dianjurkan tiap-tiap kabupaten di NTT memiliki dewan adat dan nantinya di tingkat propinsi dibentuk Lembaga Adat Tertinggi (LAT) sebagai kumpulan duta dari dewan adat di tiap-tiap kabupaten.

Aspek HUKUM
 Tolak keberadaan pengadilan agama DI NTT karena mencerminkan dualisme hukum di bumi NTT, dan terkesan mengistimewakan agama tertentu.
 Dengan status otoritas  khusus kita mampu mengontrol dan mengawasi, mengadili pejabat-penjabat NTT terutama yang terlibat korupsi tanpa intervensi dari pemerintah pusat dan dari kepentingan politik tertentu.

Aspek POLITIK
 Sebagai wilayah perbatasan, NTT mempunyai posisi strategis di mata dunia untuk saat ini karena berbatasan langsung dengan Timor Leste, Australia dan perlintasan pelayaraan Negara-negara Oceania. Jika NTT kuat secara sosial ekonomi tentunya memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.



BENTUK  JARINGAN DAN DISKUSI TENTANG OTORITAS KHUSUS DI BUMI NTT.
Dalam waktu dekat akan dilaksanakan kongres rakyat NTT untuk OTORITAS khusus…………..
Selengkapnya...

BUALAN SANG PRESIDEN

Presiden Bukan “ Superbodi”
Cermin Kegagalan Sang Pemimpin Kabinet Indonesia Bersatu


Terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilu 2004 silam sebagai presiden, bagi sebagian rakyat yang awam dengan intrik politik memberi harapan akan perubahan, dan tentunya perubahan dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Tetapi bagi sebagian kalangan yang mahfum dalam dunia politik tentunya tak lagi heran akan apa yang sekarang terjadi. Ekonomi rakyat semakin terpuruk, kesenjangan si kaya dan si miskin semakin lebar. Kita diajarkan menjadi serigala bagi sesama anak bangsa dengan segala praktek korupsi yang tersirat dilegalkan dalam birokrasi pemerintah dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Sang presiden dalam kampanye pemilu lalu menjanjikan perubahan dan bukan pembaharuan. Lagi-lagi rakyat dijadikan tumbal dan kelinci percobaan demi pencitraan sang pemimpin. Sungguh ironis bangsa sebesar ini tak mampu lagi menemukan mutiara. Seolah tak ada lagi asa untuk menghamparkan segala cita rakyat Indonesia. Bagaimana mungkin membangun negeri ini jika dana pembangunan dikorupsi oleh mereka yang dipercaya untuk melaksanakannya?? Kekhawatiran ini tidaklah berlebihan. Ahli hukum dan politik Susan Rose – Arckerman menempatkan kepentingan pribadi, termasuk kepentingan dalam kemakmuran keluarga, sebagai motivator sentral dan universal bagi kehidupan manusia sehingga tak heran korupsi menjadi endemi(corruption & Government,2000).
Bertemunya kepentingan pribadi dan daya tarik kekayaan mengakibatkan manusia bisa menjadi beringas (Antonius Steven Un,2007). Filsuf Italia Nicolo Machiavelli (1469-1527) menyatakan “manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya daripada kehilangan bagian warisannya”. Hal inilah yang patut diwaspadai oleh publik sebab mentalitas yang demikian bobrok telah merasuk pada lingkaran kekuasaan.
Secara umum, negeri ini mengakomodasi praktek demokrasi. Namun banyak pengamat politik melihat itu sebagai suatu yang semu Meskipun komposisi pemerintah mencerminkan keberagaman masyarakat, itu tidak lebih melestarikan kekuasaan yang korup. Karena mereka – mereka yang masuk dalam kekuasaan karena dukungan para koruptor. Sehingga banyak kepentingan rakyat dipinggirkan dan dipasung. Lantas Pada gilirannya, akan luntur kepercayaan publik yang terdiri 3 kelompok. Pertama , publik tanah air tidak percaya pada institusi pemerintah dan hal ini berarti Penguasa telah gagal menjalankan roda pemerintahan termasuk melaksanakan pembangunan. Kedua, publik internasional dan lembaga donor tak lagi percaya kepada pemerintah. Hal ini berbahaya mengingat kita berada di ring of fire , potensi dan bencana politik amat besar. Ketiga, investor baik lokal maupun asing yang sudah sejak lama meresahkan korupsi birokrasi akan bertambah resah dengan suburnya korupsi di pemerintahan.
Menjelang bergantian tahun banyak masyarakat berharap mendapat kehidupan yang lebih baik. Tapi justru sebaliknya pengurangan jatah bagi BBM yang berSubsidi dijadikan algojo untuk membunuh rakyat. Alasan pengkonversian Minyak tanah dengan gas, Bensin Oktan 88 dikurangi stoknya untuk diganti Oktan 90, semua ini adalah akal licik dan pembodohan publik. Dan serba tidak masuk akal. Rakyat sengaja dimiskinkan agar mereka bisa tampil bak pahlawan menjelang pemilu 2009. Namun harus kita sadari kesabaran rakyat ada batasnya dan kita telah mengakui reformasi telah gagal. Bahkan tidak mustahil sebagian orang berharap adanya revolusi untuk menata kembali bangsa ini yang semakin rapuh. Kita membutuhkan oase politik dan kita menantikan suatu jawaban yang jujur dari sang pemimpin. Kenapa semua ini terjadi !, kita masih ingat ketika SBY naik ke pentas kekuasaan tertinggi lantas disambut berbagai bencana yang maha hebat. Ketika itu cibiran dari seorang paranormal terkemuka mengatakan “ Bahwa Tuhan Tidak Berkenan “ dan hal itu mungkin benar adanya.
Keniscayaan untuk mendapatkan pemimpin yang adiluhur bisa saja luntur, seandainya kita bersama-sama untuk komit mencari pemimpin alternatif yang mampu mengubah system, dan lagi bukan yang bermental opportunis. Kita semua sudah muak dengan kemiskinan materi dan rohani. Untuk itu marilah kita bangkit merapatkan barisan untuk mengatasi bersama segala permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari kita sendiri. Yakni berani memilih pemimpin yang jujur dan berani. Dan jangan memilih kembali pemimpin yang telah gagal.

Aufklarung




Penulis : Mikael Risdiyanto SB
Mantan Aktivis Reformasi 98
Tinggal di Kualalumpur Bajawa - NTT
Selengkapnya...

Sunday, August 17, 2008

Calon Pemimpin Masa Depan Bumi Flobamora



Nama saya : Maria Oktavia Ule, kelahiran SOE baru lulus SMA 1 Bajawa Tahun 2008. Saya berencana melanjutkan studi di salah perguruan tinggi favorit di Bali. Saya juga ikut bergabung dengan forum ini untuk memotivasi semangat dalam menempuh pendidikan selanjutnya dengan sungguh-sungguh, agar NTT tidak dipandang sebelah mata oleh siapapun. Apapun akan saya lakukan demi NTT-Ku, bersama FORUM NTT BERDIKARI saya bertekad dengan sungguh akan kita menjadi bangsa yang bermartabat dan berdaulat.....Dengan kelembutanku akan kutebarkan inspiransiku. Viva NTT-ku Profiat FORUM NTT BERDIKARI
Selengkapnya...

BERSATULAH NTT-KU, TEGAKLAH KEDAULATANMU

Namaku : Fransiskus Xaverius Wety, dan umurku 23 tahun. Aku lahir di Mataloko, Bajawa Kab.Ngada Distrik Flores. Saya menempuh pendidikan di IKIP PGRI Denpasar - Bali.
Kini saya juga bekerja dibidang kimia.
Saya antusias sekali untuk bergabung dengan FORUM NTT BERDIKARI karena dalam pergerakannya tidak bersifat sektarian atau rasis dalam memperjuangkan masyarakat kepulauan NTT. Dengan prinsip ONE IDEA ONE DREAM sesungguhnya rakyat NTT harus bersatu untuk menentukan sikap terhadap kolonialisme terselubung bi bumi NTT.



Selengkapnya...

Sunday, August 10, 2008

Kucing Sang Inspirator

Selengkapnya...

Tragedi Terjangan Ombak di SELAT LOMBOK

Inilah situasi paling mendebarkan ketika kami mengalami hantaman ombak rute penyeberangan Padang Bai - Lembar (lombok)
Inilah situasi dalam kapal Gading Nusantara, banyak penumpang tak berdaya karena kapal terguncang hebat dan mengalami hantaman 4 kali ombak setinggi 3 meter.
Ini gambar sopir ekspedisi Hokky Ekspress sdr Adi Killa tampak pasrah menghadapi kondisi yang tak pasti.
Tampak juga sdr. Yono mengenakan baju pelampung bersiap dalam kondisi emergency.
Dan juga terlihat situasi lengang di ruang penumpang.
Tapi toh karena berkat Tuhan yang melimpah kami masih bisa selamat sampai hari ini.
Terima kasih Yesus-Ku

Selengkapnya...

BIDAN-BIDAN KARIR NTT

Inilah Duta Kesehatan, yakni sedang mengikuti Tugas Belajar menempuh program DIV di POLTEKES Negeri Kebidanan di Denpasar-Bali.
yakni. sdri Mada Nggadas (Soe), sdri Aleksia daro(Bajawa), sdri Lid Laka(Bajawa), sdri Siska Roja(Bajawa), sdri Kristin Ota (Bajawa).

Dipundak merekalah kualiatas hidup masyarakat NTT dipertaruhkan.
Tekunlah, belajarlah penuh motivasi. Jangan sia-siakan harapan rakyatmu.
Bersatulah dan berkaryalah.



Selengkapnya...

Generasi Flobamora

Tunas-tunas muda bumi Flobamora ini menjadi sandaran cita-cita kami. Tuntunlah mereka agar mampu membawa pembaharuan menuju NTT yang kita idam-idamkan.
Senantiasa kepeloporan kami hendaknya kalian ikuti, teruskan perjuangan kami menuju NTT yang madani.
Bersatulah dan bersuaralah agar NTT bisa kemilau diantara bangsa-bangsa.
Jadikan bumi kita menajdi kiblat para bangsa.
Jangan biarkan anak-anak menjadi terlantar karena cita-cita kami, tetapi justru menjadi api semangat untuk beri jalan kepada mereka mencapai cita-cita yang sebenarnya.




Selengkapnya...

Friday, August 8, 2008

Kota Yang Sombong

Bagaimana mungkin membangun kemewahan ditengah ditengah kesengsaraan, dan bagaimana mungkin membangun istana ditengah deraian airmata.
Di ujung nan jauh di sana kita masih menggunakan bis kayu, kuda, rakit, sampan........., inikah stereotipe Negara Kesatuan atau penjajahan terselebung terhadap suku bangsa lain.
Bagaimana mungkin kita bisa rela begitu saja terhadap realita ini.
Dan Bagaimana mungkin NTT bisa sama seperti ini.
Hanya ilusi yang kata dapatkan dari bibir penguasa (pemerintah pusat). Kita harus bernyali dan bangkit dengan kesadaran sendiri.
GARAP LAUT KITA (NTT), MEGAHKAN DARATAN KITA (NTT).! satukan langkah dan bersatulah.


Selengkapnya...

Keangkuhan Jakarta

Dari luar tampak remang hotel bintang ini. Seakan cahayanya hanya boleh dinikmati oleh penghuninya sendiri. dari sisi arsitektur tampak tak memiliki nilai sosial.
Pencitraan demikian juga tampak dalam pengambil kebijakan yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri.
Oh Jakarta suatu hari bukan bagian dari negeri kami.
Kami manusia NTT sudah punya mimpi. Akan membangun daerah kami dengan keringat dan cucuran airmata kami.
Sungguh hanya soal waktu dan kesempatanlah yang menunda impian kami, NTT yang sejahtera dan madani.
Kami punya laut yang menjanjikan, kami punya pulau ribuan dan kami juga punya keahlian.
Tetapi kami belum punya kedaulatan dan otoritas yang mutlak. Saat ini kami menyatukan langkah tak terbelah. Kami punya harapan, kami punya impian. Tak lagi ada lagi komunitas yang mengisolasikan diri, entah dari Timor, Flores, Sumba, Alor, Solor, Lembata..................semua adalah kesatuan yang utuh yakni BANGSA NUSA TENGGARA TIMUR..................KAMI SATU KAWASAN DAN SATU IMPIAN .....................MEMPERJUANGKAN KEDAULATAN KAMI.!
Selengkapnya...

Wednesday, August 6, 2008

Suara Batin-ku


Tuhan adalah gembala-ku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, ia membimbing aku ke air yang tenang.
Ia menyegarkan jiwa-ku. Ia menuntun aku ke jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun berjalan dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya sebab Engkau beserta-ku, gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagi-ku di hadapan lawanku.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah Tuhan selamanya. Selengkapnya...

Tuesday, August 5, 2008

Bali Dalam Kenangan


Senja ini ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu.
Aku datang kembali kedalam ribaanmu dalam sepimu
dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna,
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan,
dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku.
Aku cinta padamu kintamani yang dingin dan sepi,
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.
Hutanmu misteri segala.
Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti kintamani.
Kau datang kembali,
dan bicara padaku tentang kehampaan semua.
"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya",
"Tanpa kita mengerti, tanpa bisa menawar",
"Terimalah dan hadapilah",
dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara.
Aku terima ini semua,
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu.
Aku cinta padamu, karena aku cinta pada keberanian hidup.
Selengkapnya...

Bebaskan Negeri-Mu




Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian adalah Cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata

Selengkapnya...

Buat Anak Ani-Ku, di Gereja Ebenhazer Bajawa - Ngada - NTT


Vica Putri Kedua dari Keluarga NICO DALLY di Bajawa


" Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal hingga akhir".



Selengkapnya...

Markas Iblis



IBLIS KADANG TAMPAK BIJAK


Tak ada yang gratis menuju surga,
Kesenangan sesaat dan semu juga
membiasakan langkah kita.
Iblis, tokoh dibalik segala kesesatan,
Tak akan pernah berhenti mengelabui dan merayu manusia.
Agar tak bisa membedakan yang haq dan batil.
Jangankan kita manusia,
Nabi Musapun hampir tenggelam dalam buaian nasehatnya,
yang sepintas tampak bijak.
Padahal menggiring kita ke neraka.
........................sebuah kisah teladan yang layak dijadikan mutiara
Selengkapnya...

Surat Buat Tuhan




Kontemplasi

Kebanyakan orang membenci kesedihan mungkin karena berbicara kepada dunia publik, lalu Dalai Lama kerap mengatakan " ada yang sama diantara kita tidak mau penderitaan, dan mau kebahagiaan ". Ini manusiawi.
Sedikit manusia berani mengatakan jika mau menangis janganlah menangis di depan kematian, menangislah didepan kelahiran. Sebab semua kelahiran membawa serta penyakit, umur tua lalu kematian.
Dengankata lain, kelahiran sekaligus kehidupan tak bisa terhindar dari kesedihan, kesedihan selalu mengikuti langkah kelahiran. Seberapa kuat manusia berusaha, seberapa perkasa manusia membentengi diri, kesedihan tetap datang dan datang lagi.
Untuk itu jadilah bunga padma, di air tidak basah dan dilumpur tidak kotor.
Selengkapnya...

Sunday, August 3, 2008

Anakku, bebaskan bangsamu dengan suaramu



.....................if you old enough, you know people and you well known, as long as you active.
(Jika kamu cukup tua, kamu akan mengenal orang dan kamu akan dikenal orang sepanjang kamu giat)
Selengkapnya...

Semangat Kebebasan dan Kemerdekaan adalah segalanya buat kami

Selengkapnya...

Temu Perdana Forum NTT Berdikari Bulan Maret 2008

Selengkapnya...

Personil Forum NTT Berdikari Kab. Ngada

Selengkapnya...

Personil Forum NTT Berdikari Jakarta

Selengkapnya...

Pesta Pernikahan Personil Forum NTT Berdikari



Selengkapnya...